SKRI NEWS Bitung 2016.Asia Pasific Sustainable Energy Center (APEC) mengadakan
workshop tentang Solar Power Energy Shelter Solution (SPESS) pada
tanggal 2-5 November 2016 dimana konsep sustainable development
(pembangunan berkelanjutan) adalah hal yang sangat penting karena
membicarakan kebutuhan dasar manusia seperti Listrik, Energy dan Air.
Khusus untuk listrik, dalam workshop itu ditekankan untuk mencari
sumber-sumber energy terbarukan (renewable energy) sebagaimana menjadi
komitmen para pemimpin dunia telah terencana secara efektif pada tahun
2100 tidak ada lagi sumber-sumber energy dari fosil (seperti minyak,
diesel, batubara) karena itu,
Semua negara saat ini mulai berlomba-lomba
secara teknologi untuk menciptakan alat dan peralatan yang mampu
mengubah panas matahari (solar - farm solar - rooftop solar), wave a
current (gelombang dan arus) gas, geothermal menjadi sumber energi tanpa
merusak alam. Selain mencari sumber-sumber energy terbarukan,
Para
teknokrat juga sedang mendesain bangunan yang hemat penggunaan energy
dengan menggunakan tiga pendekatan yaitu, mendesain Green Building,
mengubah perilaku manusia atas penggunaan listrik yang berlebihan dan
penggunaan kendaraan tanpa menggunakan BBM. Mereka mempunyai standard
penggunaan sepeda motor dengan bbm yang hanya 10 Tahun dan setelah itu
harus beralih menggunakan sepeda motor listrik untuk menekan gas buang
(gas monoksida) sehingga untuk tahun ini di Beijing dan di Tianjin dapat
dikatakan 90 persen masyarakat menggunakan motor listrik. Di China,
khususnya Kota Tianjin, Pemerintah Kota bekerjasama dengan pihak
universitas mendesain semua gedung menjadi "green building" yaitu gedung
yang ramah lingkungandengan merombak tatanan / konstruksi rumah dan
bangunan lain tanpa merusak budaya lokal, tapi justru mengintegrasikan
budaya lokal dalam desain bangunan.
Untuk menindaklanjuti hal tersebut, Pemerintah Kota Bitung
di bawah arahan Menteri ESDM khususnya Dirjen Energi Baru dan Terbarukan
telah melakukan beberapa presentasi untuk mendapatkan beberapa dukungan
dari organisasi dan beberapa lembaga pemerintah baik di China,
Australia dan Jepang serta beberapa negara ASEAN dalam kerangka berbagi
pengalaman dalam rangka desain model kegiatan untuk profarm hemat energi
melalui pendekatan green building maupun mendapatkan informasi tentang
sumber energi dan tatacara mendayagunakan sumber-sumber energi baru dan
terbarukan yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Bitung (Solar, Wind, Arus
Laut, Geothermal) secara tepat guna untuk menghasilkan energi murah dan
berkelanjutan.
Khusus untuk Special Economic Zone (SEZ), Pemerintah China
melalui Universitas Tianjin akan melaksanakan serangkaian penelitian
bekerjasama dengan Universitas Sam Ratulangi dan Pemerintah Provinsi dan
Pemerintah Kota Bitung untuk mendapatkan teknologi energi dan
arsitektur dalam rangka mencapai Green Building dan Green Energy, karena
saat ini Pemerintah Kota Bitung sedang menyusun Road Map dan Strategi
yang tep[at (dalam pendekatan berbagai aspek) untuk mengembangkan desain
smart city yang akan lebih efektif dan efisien dalam rangka pengelolaan
dan pemanfaatan energi yang lebih hemat untuk mencapai Nearly (Net)
Zero Energy. Selain itu, pertemuan di Tianjin yang diikuti Wakil
Walikota Bitung Ir. Maurits Mantiri dalam rangka membahas Shelter
Disaster yang saat ini tercatat 70 persen disebabkan oleh Natural
Disaster.
Sebagai bagian dari kegiatan Workshop APEC APSEC, juga
diadakan lomba Open Competition Shelter Design atau lomba desain tempat
pengungsian yang ramah lingkungan yang diikuti oleh mahasiswa program
pasca sarjana jurusan desain dan arsitektur Universitas Tianjin. Lokasi
dasar desain adalah Kota Bitung, Indonesia dan Kota Lima Peru.,
Walaupun
belum sampai pada analisis ekonomi dan biaya, desain tempat pengungsian
sudah pada tahap konseptual yang bervariasi dari rumah pengungsi yang
konvensional. Berdasarkan hasil meeting antara Prof. Dr. Zong Deng Hua
dan Pemerintah Kota Bitung, ada dua hal yang menjadi hal esensial yaitu
efisiensi energi dan green building design. Kedua hal tersebut nanti
perlu ditindaklanjuti Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Pusat
Penelitian Arsitektur Universitas Tianjin dan Australia National
University yang akan disponsori oleh Prof. Igor.(tzr)