SULAWESI UTARA
Sulut/block-7/#E4D932
GORONTALO, SuaraIndonesia1.com – Komitmen kuat ditunjukkan oleh Pemerintah Kecamatan Dumbo Raya dalam mendukung pengelolaan persampahan sebagai salah satu program unggulan Wali Kota Gorontalo. Hal ini ditandai dengan langkah cepat Camat Dumbo Raya dalam merespons rancangan pengelolaan persampahan berbasis multi-stakeholder partnership yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota Gorontalo bekerja sama dengan SDGs Center dan GIZ (Lembaga Kerja Sama Pemerintah Jerman).
Kecamatan Dumbo Raya menjadi salah satu lokus pilot project pengelolaan persampahan berbasis kemitraan multipihak yang dirumuskan oleh Bappeda Kota Gorontalo, SDGs Center UNG, sekretariat SDGs Provinsi, dan Advisor GIZ di Gorontalo. Terdapat tiga kelurahan yang menjadi lokus di Kecamatan Dumbo Raya, yaitu Kelurahan Leato Selatan, Leato Utara, dan Talumolo, namun tidak menutup kemungkinan semua kelurahan. Penetapan wilayah ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bagian dari strategi awal untuk membangun model pengelolaan sampah yang terintegrasi, partisipatif, dan berdampak secara berkelanjutan.
Camat Dumbo Raya menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif kolaboratif ini dan menegaskan komitmennya untuk tidak hanya berhenti pada perencanaan. Ia langsung mengambil langkah konkret dengan mendorong desain aksi nyata yang dapat segera diimplementasikan di tingkat kelurahan. Pendekatan ini menekankan pentingnya percepatan pelaksanaan agar masyarakat dapat segera melihat hasil kerja nyata di lapangan, bukan sekadar wacana.
"Pengelolaan sampah tidak bisa ditunda. Kita perlu bergerak cepat. Apa saja sumber daya yang ada dimanfaatkan, jangan menunggu semua tersedia baru bergerak. Ia juga akan melibatkan semua pihak, dan memastikan bahwa setiap rencana benar-benar dijalankan," ungkapnya dalam salah satu pertemuan koordinasi dengan SDGs Center UNG, Bappeda Kota Gorontalo, dan Advisor GIZ Gorontalo.
Dalam implementasinya, pendekatan multi-stakeholder partnership menjadi kunci utama, dengan melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas, serta mitra pembangunan. Kolaborasi ini diharapkan mampu menjawab tantangan kompleks pengelolaan sampah perkotaan, mulai dari perubahan perilaku masyarakat hingga penguatan sistem pengelolaan yang lebih efektif.
Momentum ini semakin diperkuat dengan kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik dari Universitas Negeri Gorontalo di wilayah tersebut. Kehadiran mahasiswa menjadi elemen penting dalam mendukung edukasi dan pendampingan kepada masyarakat secara lebih intens dan berkelanjutan. Melalui KKN Tematik, berbagai program sosialisasi, edukasi pemilahan sampah, hingga praktik pengelolaan berbasis rumah tangga dapat dijalankan secara langsung di tengah masyarakat.
Sinergi antara pemerintah kecamatan, kelurahan, mahasiswa, NGO Biota, unsur PKK Kecamatan Dumbo Raya, dan masyarakat yang dilaksanakan pada tanggal 25 April 2026 di Kelurahan Leato Selatan ini diharapkan mampu menciptakan perubahan nyata dalam pengelolaan sampah di Dumbo Raya. Masyarakat diberi edukasi pengelolaan sampah organik menjadi kompos dengan menggunakan teknik biopori dan tong komposter. Upaya bersama ini tentunya belum cukup. Masih panjang kerja-kerja kolaboratif yang harus disinergikan dengan bukti nyata yang sangat ditunggu, sehingga terlihat dampak pengurangan timbunan sampah di wilayah ini.
Dengan komitmen kuat dan langkah cepat yang ditunjukkan, Kecamatan Dumbo Raya menjadi contoh bagaimana kepemimpinan di tingkat lokal dapat memainkan peran strategis dalam mendorong implementasi program prioritas daerah secara efektif, terarah, dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Reporter: Jhul-Ohi
BOLMONG, SuaraIndonesia1.com – Polemik Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Oboy bukan sekadar persoalan hukum yang dilanggar, melainkan cerminan nyata dari kegagalan tata kelola sumber daya alam yang berkeadilan. Aktivitas PETI di wilayah ini terus berlangsung secara masif dan terbuka, seolah-olah hukum kehilangan daya paksa di hadapan kepentingan ekonomi jangka pendek dan jaringan kekuasaan informal yang melindunginya.
Polemik PETI di Desa Oboy juga menunjukkan adanya indikasi pembiaran, bahkan dugaan keterlibatan oknum aparat atau elite tertentu. Penegakan hukum yang tebang pilih memperkuat persepsi publik bahwa hukum hanya tajam ke bawah, namun tumpul ke atas. Operasi penertiban yang sporadis tanpa solusi struktural justru memperlihatkan pendekatan reaktif, bukan preventif dan transformatif.
"Saya sudah memberikan surat audiens ke DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow dan juga kepada kapolres sebagai bentuk advokasi dan pengawalan langsung terhadap yang terjadi di Oboy, namun tidak mendapatkan titik terang dan dengan alasan-alasan tertentu. Oleh karena itu kami akan menggelar aksi unjuk rasa di Polres Bolmong dan Pemda Bolmong untuk mempertanyakan perihal tersebut," kata Almisbah.
Lebih jauh lagi, polemik yang terjadi di Desa Oboy ini cukup kompleks. Dalam media online Tribun Manado.co.id, dibeberkan secara jelas bahwa kasus ini sudah dilimpahkan kepada Kejaksaan Negeri Kotamobagu, dan tinggal menunggu berkas untuk P21 sebagai syarat formal. Namun yang paling parah dalam hal ini, Kapolres Bolaang Mongondow tidak memberikan keterangan apapun dalam kasus ini, sehingga menimbulkan kecurigaan publik bahwa ada unsur main mata antara pihak polres dan pihak perusahaan PT Xinfeng tersebut.
Lebih lanjut, lokasi PT Xinfeng tersebut sudah sempat dipasangi police line dan diberhentikan sementara untuk menunggu hasil putusan pengadilan. Namun perusahaan tersebut memaksa membuka segel tersebut dan melakukan operasi lanjutan. Ini sebagai bentuk gambaran bahwa lemahnya penegakan hukum di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow. Bahkan secara semiotik, ini menghina institusi kepolisian sebagai aparat penegak hukum.
Dengan itu, jika tidak ada langkah tegas, transparan, dan menyeluruh, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kelestarian alam Desa Oboy, tetapi juga kepercayaan publik terhadap keadilan itu sendiri. Kritik ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menegaskan satu hal: hukum harus berlaku setara, dan sumber daya alam seharusnya menjadi berkah bersama—bukan ruang gelap bagi kepentingan segelintir pihak.
— REDAKSI —
GORONTALO, SuaraIndonesia1.com – Upaya pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat terus didorong melalui kegiatan kolaboratif yang dilaksanakan di Kelurahan Leato Selatan, Kecamatan Dumbo Raya, pada Sabtu (25/4/2026). Kegiatan ini merupakan salah satu program inti mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang berkolaborasi dengan SDGs Center UNG, Bappeda Kota Gorontalo, Pemerintah Kecamatan Dumbo Raya, Kelurahan Leato Selatan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), PKK Kecamatan Dumbo Raya, NGO Biota, serta masyarakat setempat.
Program tersebut difokuskan pada upaya meminimalisir sampah organik rumah tangga yang terbuang dengan mengolahnya menjadi kompos melalui metode biopori dan komposter. Kegiatan ini tidak hanya bersifat sosialisasi, tetapi juga praktik langsung di lapangan sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat. Pelaksanaan kegiatan turut didampingi langsung oleh Camat Dumbo Raya yang secara simbolis menyerahkan pipa biopori kepada warga. Penyerahan ini menjadi bentuk dukungan pemerintah kecamatan dalam mendorong penerapan pengelolaan sampah berbasis rumah tangga.
Selain itu, mahasiswa KKN UNG bersama masyarakat melakukan pembuatan lubang biopori di sejumlah titik rumah warga. Praktik ini bertujuan agar masyarakat dapat memahami secara langsung proses pengolahan sampah organik menjadi kompos yang ramah lingkungan dan mudah diterapkan. Kegiatan kolaboratif ini sejalan dengan arah program pengabdian Universitas Negeri Gorontalo yang memperkuat program pengabdian yang berdampak dan sustainable. Dengan demikian, program pengabdian mahasiswa KKN di Kelurahan Leato Selatan tidak hanya menghadirkan solusi praktis di masyarakat tentang pengelolaan sampah, tetapi juga mendorong perubahan perilaku menuju lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan dan kolaboratif yang terintegrasi dengan program dari berbagai stakeholder terkait.
Keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan dalam memberdayakan masyarakat dan menjawab permasalahan lingkungan secara nyata. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat Kelurahan Leato Selatan dapat terus mengembangkan pengelolaan sampah organik secara mandiri serta menjadi contoh bagi wilayah lain dalam penerapan konsep pengelolaan sampah berkelanjutan.
Reporter: Jhul-Ohi
BOLMONG SELATAN, SuaraIndonesia1.com – Aktivitas penambangan Batu Hitam di wilayah Kecamatan Tomini, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, kembali mencuat ke permukaan. Informasi terbaru menunjukkan bahwa kegiatan tersebut terus beroperasi, bahkan tanpa sepengetahuan Kepala Desa (Sangadi) Milangodaa.
Baru-baru ini, Tim Trabas berhasil menemukan lokasi penampungan atau gudang yang diduga digunakan untuk menyimpan Batu Hitam hasil aktivitas tersebut. Gudang itu berada di titik koordinat 0.3286440, 123.7258830, yang secara administratif masuk dalam wilayah Desa Milangodaa, Kecamatan Tomini.
Dalam pengungkapan tersebut, Tim Trabas mendapati material Batu Hitam yang disimpan di dalam gudang penampungan mencapai jumlah 450 karung. Temuan ini menjadi bukti awal bahwa aktivitas pertambangan ilegal atau tanpa prosedur resmi masih berlangsung di daerah tersebut.
Yang menjadi sorotan, kegiatan operasional ini dilakukan oleh pihak investor yang bernama lapangan Kiki asal Desa Botupingge Bone Bolango Gorontalo secara sepihak, tanpa sepengetahuan dan koordinasi dengan pemerintah desa setempat. Sangadi Milangodaa menyatakan tidak pernah memberikan izin maupun dilibatkan dalam proses aktivitas Batu Hitam di wilayahnya.
Hingga berita ini diturunkan, Tim Trabas masih melakukan pendalaman lebih lanjut terkait kepemilikan gudang, sumber material, serta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas aktivitas tersebut. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mendukung upaya penegakan hukum di wilayahnya.
— REDAKSI —
GORONTALO UTARA, SuaraIndonesia1.com – Publik kembali dikejutkan dengan kabar yang mengundang kecurigaan luas terkait dugaan pertemuan antara oknum Kepala Desa Gentuma, Kepala Dinas PMD Gorontalo Utara, dan Kepala Kejaksaan Negeri Gorontalo Utara. Pertemuan tersebut diduga kuat berkaitan dengan praktik suap, dan langsung memicu gelombang kritik tajam dari berbagai kalangan, termasuk aktivis muda Gorontalo, Rahman Patingki.
Rahman menilai, peristiwa ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan indikasi serius adanya upaya “main mata” dalam penanganan kasus dugaan korupsi yang sejak awal telah mencuat ke publik. Ia menegaskan bahwa kasus dugaan korupsi di Desa Gentuma yang menyeret nama kepala desa, serta dugaan korupsi yang melibatkan Kepala Dinas PMD Gorontalo Utara, hingga kini belum menunjukkan kejelasan hukum.
“Publik sudah lama menunggu kepastian hukum, tapi yang muncul justru kabar pertemuan tertutup yang sarat kecurigaan. Ini bukan hanya mencederai kepercayaan masyarakat, tapi juga mempermalukan institusi penegak hukum,” tegas Rahman.
Lebih jauh, Rahman juga menyayangkan pernyataan dari Kasi Intel Kejari Gorontalo Utara yang menyebut bahwa kedua pihak tersebut datang untuk bertemu dengan bidang Intelijen, namun karena pejabat terkait sedang berada di luar daerah, mereka justru diterima langsung oleh Kepala Kejaksaan Negeri.
Menurutnya, alasan tersebut terkesan janggal dan tidak sesuai dengan prosedur yang semestinya. Ia menilai, jika benar pertemuan tersebut bersifat resmi, maka seharusnya dilakukan secara terbuka dan di ruang yang telah ditentukan secara administratif, bukan di ruang kerja kepala kejaksaan yang justru menimbulkan multitafsir.
“Ini berbahaya. Narasi seperti ini justru menggiring opini publik seolah-olah semuanya normal, padahal prosedurnya patut dipertanyakan. Jangan sampai hukum dipermainkan oleh kekuasaan,” lanjutnya.
Kecurigaan publik semakin menguat lantaran hingga saat ini belum ada kejelasan terkait penanganan dua kasus besar, yakni dugaan korupsi pembangunan Masjid Jabal Iqro Gorontalo Utara serta kasus dugaan korupsi di Desa Gentuma. Mandeknya proses hukum ini dinilai semakin mempertebal dugaan adanya kompromi di balik layar.
Rahman menegaskan bahwa kejaksaan sebagai institusi penegak hukum tidak boleh membuka ruang sedikit pun terhadap praktik-praktik kompromi yang mencederai keadilan. Ia mengingatkan bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang harus ditangani secara tegas, transparan, dan tanpa pandang bulu.
“Atas dasar itu, kami mendesak Kejaksaan Negeri Gorontalo Utara untuk segera menetapkan tersangka dalam kasus-kasus dugaan korupsi tersebut. Jangan biarkan hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Rakyat tidak butuh janji, rakyat butuh bukti,” pungkasnya.
Kasus ini kini menjadi sorotan tajam masyarakat Gorontalo. Publik menunggu langkah konkret dari aparat penegak hukum untuk membuktikan bahwa keadilan masih berdiri tegak, bukan justru tunduk pada kekuasaan dan kepentingan tertentu.
— REDAKSI —
POHUWATO, SuaraIndonesia1.com – Dokumentasi yang diperoleh Aliansi Pemuda dan Masyarakat Peduli Keadilan Gorontalo (APMPK-G), Sabtu (25/4/2026), memicu polemik. Dalam foto tersebut terlihat aktivitas pertambangan menggunakan alat berat yang diduga masih beroperasi di wilayah Kecamatan Popayato Barat.
Menanggapi hal itu, pihak kepolisian setempat membantah bahwa aktivitas tersebut berada di wilayah hukum Popayato Barat. Kapolsek Popayato Barat, IPDA Ilham Siplizand, menegaskan, sejak awal tahun lalu pihaknya bersama Satuan Reskrim Polres telah melakukan penertiban terhadap aktivitas pertambangan tanpa izin (PETI).
“Sejak awal tahun lalu kami bersama Reskrim sudah melakukan penertiban. Sehingga, insyaallah di wilayah Popayato Barat sudah tidak ada lagi aktivitas PETI,” tegasnya.
Ia menjelaskan, aktivitas yang terpantau dalam dokumentasi yang beredar tersebut bukan berada di wilayah Popayato Barat, melainkan masuk wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Kapolsek Popayato Barat juga menekankan pentingnya penyampaian informasi yang akurat dan tidak menggiring opini publik.
Ia mengaku terbuka terhadap laporan masyarakat maupun media, namun meminta agar setiap informasi yang disampaikan harus sesuai dengan fakta di lapangan. Menurutnya, setelah menerima informasi tersebut, pihaknya langsung mengarahkan anggota untuk berkoordinasi dan melakukan pengecekan ke lokasi yang disebutkan, yakni Desa Persatuan. Namun, hasil pengecekan tidak menemukan adanya aktivitas seperti yang dilaporkan.
“Anggota sudah turun langsung ke lokasi di Desa Persatuan, tapi tidak ditemukan aktivitas seperti yang disampaikan. Bahkan kondisi bentang alam di lokasi berbeda dengan yang ada dalam dokumentasi,” jelasnya.
Ia pun menegaskan, jika ada pihak yang menyebut aktivitas PETI terjadi di Desa Persatuan, Kecamatan Popayato Barat, maka informasi tersebut dinilai tidak benar. Pihak kepolisian memastikan akan terus melakukan pengawasan serta menindaklanjuti setiap laporan masyarakat guna memastikan tidak adanya aktivitas pertambangan ilegal di wilayah hukumnya.
— REDAKSI —
GORONTALO, SuaraIndonesia1.com – Koordinator Wilayah Bidang Ekonomi Kerakyatan Forum Mahasiswa Nusantara (FMN), Altio Lengato, memberikan catatan kritis terkait pelaporan hukum terhadap pakar hukum tata negara Feri Amsari. Altio menilai, upaya menyeret kritik ilmiah ke ranah pidana adalah preseden buruk bagi akuntabilitas kebijakan pangan nasional.
Menurut Altio, perdebatan mengenai validitas data swasembada seharusnya dijawab dengan transparansi data, bukan melalui laporan polisi ke Polda Metro Jaya. Ia menekankan bahwa iklim demokrasi yang sehat membutuhkan suara kritis akademisi agar kebijakan tidak berjalan tanpa kontrol.
"Kritik terhadap data publik adalah bagian dari mekanisme pengawasan yang sah. Jika setiap perbedaan interpretasi direspon dengan pendekatan hukum, akan muncul chilling effect yang membungkam nalar kritis di lingkungan kampus dan intelektual," ujar Altio dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (25/4).
Paradoks Ketahanan Pangan di Gorontalo
Beralih ke persoalan lokal, Altio menyoroti adanya jurang antara ambisi swasembada nasional dengan realitas pertanian di Provinsi Gorontalo. Sebagai salah satu daerah penyangga jagung, Gorontalo justru sedang menghadapi tantangan serius yang sering kali tidak terpotret secara utuh dalam statistik pusat.
Merujuk pada kondisi di Kabupaten Pohuwato dan Boalemo, Altio menyebut produktivitas jagung sedang tertekan akibat degradasi kualitas lahan dan dampak El Niño yang belum teratasi dengan mitigasi yang kuat.
"Kita menghadapi paradoks. Di satu sisi pemerintah mengejar target ekspor, tapi di sisi lain petani di bawah masih terjebak masalah lama seperti kelangkaan pupuk dan fluktuasi harga saat panen raya. Proyek skala besar seperti food estate sering kali mengabaikan daya dukung lingkungan lokal," jelas Altio.
Ia juga menyoroti penggunaan lahan miring di Gorontalo yang sangat rentan erosi. Baginya, pemaksaan model pertanian industrial tanpa memperhatikan konservasi hanya akan memicu bencana ekologis dalam jangka panjang dan justru menurunkan produktivitas.
Tuntutan dan Langkah Solusi
Mewakili FMN Bidang Ekonomi Kerakyatan, Altio mendesak evaluasi menyeluruh terhadap arah kebijakan agraria saat ini. Ada tiga poin utama yang menjadi tuntutan mereka:
1. Hentikan Kriminalisasi Nalar Kritis: Meminta pihak kepolisian menghentikan proses penyelidikan terhadap Feri Amsari. Kritik terhadap klaim surplus pangan harus dipandang sebagai upaya memperbaiki akurasi kebijakan, bukan tindak pidana.
2. Orientasi pada Ekonomi Kerakyatan: Mendesak pemerintah untuk beralih dari model industrialistik yang top-down menuju penguatan kedaulatan pangan berbasis petani lokal, ketersediaan bibit yang tepat, dan perlindungan harga di tingkat tapak.
Reporter: Jhul-Ohi
Diselenggarakan di Harmoni One Hotel Batam, kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta yang terdiri dari jajaran manajemen, praktisi IT, serta pelaku industri manufaktur, logistik, dan kesehatan. Kehadiran kolaboratif antara pengambil kebijakan dan pelaksana teknis menjadi fondasi utama dalam membangun transformasi digital yang efektif, aman, dan berkelanjutan.
Direktur Yorindo Communication, Yolanda Roring, menegaskan bahwa roadshow ini dirancang sebagai platform strategis untuk membangun blueprint transformasi digital nasional yang komprehensif. “Kami menghadirkan ekosistem lengkap, mulai dari kebijakan keamanan siber, infrastruktur digital, hingga implementasi AI yang aplikatif. Batam menjadi titik penting karena merupakan hub industri dan perdagangan internasional,” ujarnya.
Dari sisi kebijakan nasional, Drs. Slamet Aji Pamungkas, M.Eng., Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN RI, kembali menegaskan pentingnya keamanan siber sebagai fondasi utama transformasi digital. Dalam sesi utama, beliau memaparkan konsep Autonomous Cyber Defense sebagai pendekatan strategis dalam menghadapi ancaman siber yang semakin cepat dan kompleks. Sistem pertahanan yang adaptif serta mampu merespons secara otomatis dinilai krusial dalam melindungi infrastruktur kritis, baik di sektor manufaktur maupun kesehatan. Hal tersebut disampaikan oleh Slamet Aji Pamungkas, yang akrab disapa Mamung.
Ketua Umum APTIKNAS dan APKOMINDO, Ir. Soegiharto Santoso, S.H. (Hoky), dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun fondasi digital yang kuat sebelum mengadopsi AI secara luas. “Adopsi AI tanpa infrastruktur digital yang kokoh berisiko menimbulkan Black Box Syndrome, yaitu kondisi di mana sistem berjalan tanpa transparansi dan kontrol. Kita harus membangun digital backbone yang mandiri dan berdaulat, baik melalui on-premise maupun cloud lokal,” tegas Hoky.
Ia juga menambahkan bahwa transformasi digital tidak cukup hanya mengadopsi teknologi AI, tetapi harus dibarengi dengan kesiapan infrastruktur dan keamanan. “Tanpa fondasi yang kuat, AI justru berpotensi menjadi sumber risiko baru. Karena itu, kami menghadirkan blueprint yang lengkap di setiap kota,” tambahnya.
Apresiasi tinggi disampaikan kepada KADIN Batam dan IndoHC atas kontribusinya dalam mendorong pengembangan SDM digital. “Kami sangat bangga melihat antusiasme KADIN Batam dan IndoHC. Ini adalah langkah nyata menuju terciptanya 1.000 Digital Transformation Leaders di Indonesia. Peran Bapak Dr. Paimin Siahaan, M.Hum., selaku Founder IndoHC sekaligus Wakil Ketua Kadin Batam sangat krusial dalam menyelaraskan kebutuhan industri dengan pengembangan talenta digital,” ujar Hoky.
Ketua APTIKNAS Kepulauan Riau, Robert Liandro, turut menegaskan komitmennya dalam mengawal kolaborasi jangka panjang antara industri dan penyedia teknologi. “APTIKNAS Kepri siap memastikan transformasi digital berjalan secara terarah dan berkelanjutan. Kami hadir untuk menjembatani kebutuhan industri dengan solusi teknologi terbaik,” ujarnya.
Kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dan praktisi terkemuka, antara lain Dr. Paimin Siahaan, M.Hum., Agus Dedi Supriyadi (Direktur SMARTTRUS, Ketua APTIKNAS & APKOMINDO DPD Bekasi, Praktisi AI & IoT), Wahyu M. Sun (CEO & Founder Smartnetindo), Saputra Kurniawan (Head of Area Batam, Pekanbaru, Padang), serta Iswadi Suwrana (Regional Sales Manager QSAN). Para narasumber berbagi wawasan strategis mulai dari kebijakan, infrastruktur, hingga implementasi teknologi terkini di lapangan.
Puncak acara diisi dengan workshop interaktif yang dipandu oleh Agus Dedi Supriyadi, di mana peserta mempraktikkan langsung otomasi proses bisnis menggunakan platform n8n serta integrasi AI dan IoT. Sesi ini memberikan pengalaman nyata dalam mengintegrasikan sistem lintas platform secara efisien dan aplikatif.
Kesuksesan acara ini juga didukung oleh berbagai mitra teknologi global yang menghadirkan solusi nyata, di antaranya Smartnetindo (Ekahau) untuk optimasi jaringan Wi-Fi industri, Weefer dengan solusi HRIS berbasis AI, serta QSAN dan VEEAM yang menghadirkan solusi penyimpanan dan backup data yang aman dan andal. Para mitra juga membuka sesi konsultasi langsung yang memberikan nilai tambah bagi peserta.
Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh jajaran pengurus APTIKNAS dan APKOMINDO, antara lain: Arseto Hartantiyo selaku Sekretaris Daerah APTIKNAS dan APKOMINDO Kepulauan Riau; Willyanto (Djui Huang) selaku Bendahara APTIKNAS dan APKOMINDO Kepulauan Riau; serta anggota APTIKNAS dari Jakarta, Andreas (PT Taitan Teknologi Indonesia) dan Mike Gunawan (PT. Aktivitas Menarik Indonesia) yang juga memiliki perusahaan EO LiveLife Activities Pte Ltd, di Singapura.
Hadir pula secara daring: Andi Mulja Tanudiredja selaku Wakil Ketua Umum III Bidang Kerjasama, Event, dan Hubungan Internasional; Hartanto Sutardja selaku Wakil Ketua Komite Tetap Kerjasama Luar Negeri; Yuliasiane Sulistiyawati selaku Ketua Komite Tetap Cyber Security Solusi; serta Nazir Danuarta Sudirman selaku Ketua APTIKNAS dan APKOMINDO DPD Banten.
Sebagai bagian dari gerakan nasional, roadshow ini menargetkan pemerataan transformasi digital di 10 kota strategis Indonesia, setelah sebelumnya sukses dilaksanakan di Surabaya, Bali, dan Cikarang serta Batam. Selanjutnya, kegiatan akan berlanjut ke Purwakarta, Tangerang, Solo, Jakarta, Semarang, hingga Balikpapan-Samarinda.
Melihat antusiasme dan dampak nyata yang dihasilkan, penyelenggara membuka peluang luas bagi sponsor dan mitra strategis untuk berpartisipasi pada Roadshow ke-5 hingga ke-10. Keterlibatan sponsor tidak hanya memberikan eksposur brand kepada lebih dari 100 pengambil keputusan di setiap kota, tetapi juga membuka peluang kolaborasi langsung dalam pengembangan ekosistem digital nasional. Dengan dukungan publikasi media dan asosiasi kredibel, kegiatan ini menjadi platform ideal untuk memperluas jejaring bisnis dan kontribusi strategis.
“Roadshow ini adalah gerakan kolaboratif lintas ekosistem. Kami mengundang para vendor dan penyedia solusi untuk ikut serta dalam perjalanan menuju kedaulatan digital Indonesia. Kehadiran sponsor bukan hanya investasi bisnis, tetapi juga kontribusi nyata bagi kesiapan industri nasional menghadapi era AI,” tutup Hoky yang juga menjabat sebagai Sekjen PERATIN dan Wakli Ketua Umum SPRI.
Seluruh rangkaian seminar dan workshop tidak dipungut biaya bagi peserta. Informasi pendaftaran serta kerja sama sponsor dapat diperoleh melalui: 0819 3267 4333 / 0813 2175 8222 / 0812-1414-9098.
“Selama 80 tahun merdeka, kita masih terjebak dalam pola pikir yang dibentuk pemain global. Padahal, kita sesungguhnya duduk di atas tambang pupuk,” tegas Hasyari kepada awak media di Jakarta, Jumat (24/4).
Menurut dia, Indonesia memiliki potensi luar biasa melalui 573 juta ton biomassa sawit serta 93 juta ton kotoran ternak per tahun yang dapat diolah menjadi sumber pupuk bernilai ekonomi lebih dari Rp60 triliun, namun selama ini banyak yang terbuang sia-sia.
Data Kunci GAPERKASINDO
1. Krisis Fiskal Pupuk
Sekitar 70 persen bahan baku NPK masih bergantung pada impor. Subsidi pupuk pada 2025 diproyeksikan mencapai Rp46,8 triliun, rentan terhadap gejolak dolar dan konflik global.
2. Kondisi Tanah Mengkhawatirkan
Sebanyak 72 persen lahan sawah memiliki kandungan C-organik di bawah 2 persen. Produktivitas stagnan meski penggunaan pupuk kimia terus meningkat.
3. Ketimpangan Kandungan Hara
Pupuk kimia tunggal dan majemuk umumnya hanya memiliki 2–4 unsur hara. Sementara pupuk semi organik mampu mengandung 6–14 unsur hara, meliputi makro primer, sekunder, hingga mikro.
Tantangan untuk Presiden Prabowo
GAPERKASINDO menilai krisis pangan dan pupuk global justru menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk melakukan lompatan besar.
Hasyari mendorong tiga langkah utama:
Mengakhiri ketergantungan impor dan memberi ruang lebih besar bagi produsen pupuk ramah lingkungan dalam negeri.
Mengoptimalkan “gunung mineral organik” dari limbah kebun dan peternakan sebagai sumber bahan baku pupuk nasional yang melimpah dan berkelanjutan.
Mengalihkan Rp25 triliun subsidi pupuk kimia menjadi voucher pupuk semi organik sebesar Rp3 juta per hektare bagi 10 juta petani.
“Jika Presiden berani mengambil momentum ini, Indonesia bukan hanya mencapai swasembada pangan, tetapi bisa menjadi pemasok pupuk sehat nomor satu dunia. Bahkan biaya kesehatan dapat ditekan melalui pangan rendah residu,” ujar Hasyari.
GAPERKASINDO bersama Koperasi FANANTARA menyatakan siap menjadi mitra eksekutor utama program tersebut, dengan target memangkas Rp31 triliun subsidi dan mensubstitusi 50 persen impor pupuk sebelum 2028.
“Kedaulatan pangan tidak mungkin terwujud tanpa kedaulatan pupuk,” pungkasnya.
GORONTALO, SuaraIndonesia1.com – Dugaan pemborosan anggaran kembali mencuat di lingkungan Sekretariat DPRD Provinsi Gorontalo. Kali ini, sorotan tajam datang dari kalangan aktivis, menyusul temuan terkait rencana pengadaan perangkat teknologi berupa MacBook Air dalam jumlah besar yang dinilai tidak mencerminkan keberpihakan terhadap kepentingan rakyat.
Ketua Umum Forum Kaum Pembela Rakyat Provinsi Gorontalo, Rahman Patingki, melontarkan kritik keras atas rencana pengadaan sebanyak 45 unit MacBook Air dengan total pagu anggaran mencapai Rp1.125.000.000. Program tersebut direncanakan mulai berjalan sejak April hingga Desember 2026.
Menurut Rahman, angka tersebut tergolong fantastis dan patut dipertanyakan urgensinya, terlebih di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih jauh dari kata sejahtera. Ia menilai, kebijakan ini bertolak belakang dengan semangat efisiensi anggaran yang saat ini tengah digencarkan oleh Prabowo Subianto melalui berbagai langkah penghematan, termasuk penerapan sistem kerja dari rumah (WFH) untuk menekan biaya operasional negara.
“Ini sangat ironis. Di satu sisi pemerintah pusat mendorong efisiensi, tapi di daerah justru muncul dugaan pemborosan anggaran untuk hal yang tidak mendesak. Ini uang rakyat, bukan uang pribadi,” tegas Rahman.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa kondisi sosial ekonomi di Gorontalo seharusnya menjadi perhatian utama para pemangku kebijakan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) awal 2025, Provinsi Gorontalo menempati peringkat ke-9 sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia, dengan persentase mencapai 13,24% atau sekitar 162.740 jiwa.
“Dengan angka kemiskinan setinggi itu, seharusnya DPRD sebagai representasi rakyat lebih fokus pada kebijakan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, bukan justru sibuk dengan pengadaan fasilitas yang tidak urgen,” tambahnya.
Rahman juga mendesak aparat penegak hukum, khususnya Kejaksaan Tinggi Gorontalo, untuk segera melakukan audit terhadap rencana pengadaan tersebut. Ia mengingatkan agar potensi penyalahgunaan anggaran dapat dicegah sejak dini, bukan setelah terjadi persoalan yang berujung pada tuntutan ganti rugi (TGR).
“Kami minta Kejati segera turun tangan. Jangan tunggu masalah besar baru bertindak. Transparansi dan akuntabilitas harus ditegakkan sejak awal,” ujarnya dengan nada tegas.
Selain itu, ia juga menyoroti menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga legislatif. Menurutnya, saat ini keluhan masyarakat justru lebih banyak disampaikan kepada aktivis, LSM, dan organisasi daerah dibandingkan kepada DPRD.
“Ini tanda bahwa kepercayaan publik mulai runtuh. Harus ada evaluasi menyeluruh dan introspeksi di internal DPRD. Jangan sampai rakyat merasa tidak lagi memiliki wakil yang benar-benar memperjuangkan aspirasi mereka,” pungkas Rahman.
Kasus ini pun diharapkan menjadi perhatian serius berbagai pihak, sekaligus momentum untuk memperkuat pengawasan publik terhadap penggunaan anggaran negara, khususnya di daerah.
— REDAKSI —
GORONTALO, SuaraIndonesia1.com – Nama Yosar Ruibha Monoarfa kembali hangat diperbincangkan di kalangan masyarakat Gorontalo. Ia menggagas gerakan dalam aksi 1 sampai 7 Mei yang memunculkan berbagai macam perspektif di tengah masyarakat.
Sorotan datang dari aktivis Gorontalo, Andi Taufik. Menurutnya, aksi yang digagas oleh Yosar dinilai sarat akan kepentingan dan propaganda masyarakat. Seperti kita ketahui bersama, nama Yosar ini sering dikaitkan dengan keterlibatan pertambangan tanpa izin. Tampil sebagai jenderal lapangan dalam demo nanti bisa saja hanya menjadi batu loncatan Yosar dan kawan-kawan untuk memperkuat dirinya dalam pusara pertambangan tanpa izin nantinya.
Lebih jauh Andi mengatakan, "Kita belum melupakan sejarah kelam di Pohuwato. Pembakaran kantor bupati adalah kerugian tersendiri bagi masyarakat dan daerah, ditambah banyak masyarakat yang ditangkap serta menjadi korban akibat kepentingan-kepentingan segelintir orang. Itu yang kami jaga, jangan sampai berjuang atas nama rakyat, menggunakan tenaga rakyat, lalu yang menikmati malah si Yosar ini."
Desakan publik untuk segera menangkap Yosar semakin menguat di kalangan aktivis dan rakyat Gorontalo. Mengingat langkah dan tindakan yang Yosar dan kawan-kawan lakukan bukan hanya menormalisasi pertambangan tanpa izin, akan tetapi menjadi perlawanan terbuka terhadap aturan negara dalam ruang investasi, khususnya di wilayah pertambangan.
Aparat penegak hukum (APH) harus segera bertindak sebagai langkah nyata dari penegakan hukum. Langkah dan tindakan Yosar hari ini bukan hanya sekadar menjadi aktor peti, akan tetapi telah menjadi racun masyarakat dengan upaya-upaya propagandanya. Jangan biarkan masyarakat Pohuwato menjadi korban atas kepentingan Yosar Ruibha, tutup Andi.
— REDAKSI —
Kegiatan tersebut melibatkan sebanyak 16 personel prajurit yang turun langsung bersama masyarakat setempat untuk membersihkan lingkungan kampung, mulai dari fasilitas umum hingga area sekitar pemukiman warga.
Kepala Kampung Mambui, Bapak Alex Wopari, turut hadir dan ikut serta dalam kegiatan tersebut. Kehadiran beliau bersama masyarakat mencerminkan semangat kebersamaan dan gotong royong yang menjadi nilai utama dalam pelaksanaan karya bakti ini.
“Kami sangat mengapresiasi kehadiran prajurit Yonif TP 860/NSK yang telah membantu masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Ini menjadi contoh nyata sinergi antara TNI dan rakyat,” ujar Bapak Alex Wopari.
Sementara itu, pihak Yonif TP 860/NSK menyampaikan bahwa kegiatan karya bakti ini merupakan bagian dari upaya pembinaan teritorial serta wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta lingkungan yang bersih, sehat, serta semakin mempererat hubungan harmonis antara prajurit TNI dan masyarakat di wilayah Kabupaten Waropen.
GORONTALO, SuaraIndonesia1.com – Aliansi Mahasiswa Peduli Lingkungan Boalemo memastikan akan menggelar aksi besar-besaran dengan menggruduk Polda Gorontalo. Aksi ini membawa satu tuntutan utama yang tidak bisa dinegosiasikan: copot Kapolres Boalemo dari jabatannya.
Koordinator aksi, Rivandi Abdullah, menegaskan bahwa tuntutan tersebut lahir dari kekecewaan mendalam atas sikap aparat yang dinilai gagal total dalam menghentikan aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di kawasan Hutan Sapa.
"Hutan Sapa terus dijarah secara brutal, sementara aparat memilih bungkam. Ini bukan sekadar kelalaian, ini adalah bentuk pembiaran yang tidak bisa lagi ditoleransi. Karena itu, kami tegaskan: copot Kapolres Boalemo, tidak ada kata lain selain angkat kaki dari tanah Boalemo," tegas Rivandi.
Menurutnya, kerusakan lingkungan yang terjadi bukan hanya soal hutan, tetapi telah mengancam langsung kehidupan masyarakat Boalemo, khususnya para petani yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
"Ini soal hidup dan masa depan. Petani kami menyekolahkan anak-anaknya dari hasil sawah. Jika hutan dihancurkan, maka sumber air rusak, lahan pertanian hancur. Siapa yang bertanggung jawab? Kami tidak akan diam," lanjutnya dengan nada keras.
Aliansi juga menilai tidak adanya langkah konkret dari aparat penegak hukum menunjukkan lemahnya komitmen dalam melindungi lingkungan dan rakyat. Bahkan, mereka menyebut situasi ini sebagai bentuk kegagalan kepemimpinan di tingkat Polres Boalemo.
"Kami tidak butuh janji, kami butuh tindakan. Jika Kapolda Gorontalo tidak segera mencopot Kapolres Boalemo, maka kami akan memastikan gelombang aksi ini terus berlanjut tanpa henti," ujar Rivandi.
Ia menegaskan, aksi yang akan digelar bukan sekadar simbolik. Massa siap turun ke jalan secara berkelanjutan dalam waktu yang tidak ditentukan hingga tuntutan mereka dipenuhi.
"Kami akan datang, dan kami akan kembali lagi. Berminggu-minggu, bahkan lebih lama, sampai ada keputusan tegas. Ini ultimatum: copot Kapolres Boalemo sekarang juga," tutupnya.
Aksi ini dipastikan akan menjadi tekanan kuat bagi Polda Gorontalo, sekaligus menjadi peringatan keras bahwa krisis lingkungan di Boalemo telah mencapai titik darurat dan tidak bisa lagi diabaikan.
Reporter: Jhul-Ohi
Intruksi tersebut sebagaimana disampaikan Bupati Merangin H M Syukur, pada pidato pelantikan dua orang pejabat tinggi pratama di lingkungan Pemkab Merangin, yang berlangsung di Auditorium rumah dinas bupati Merangin, Kamis (23/4).
Dua orang pejabat pimpinan tinggi pratama yang dilantik itu, Jaya Kusuma, S.IP., M.A.P sebagai Inspektur Daerah Kabupaten Merangin dan Afrizal, S.IP., M.Si dipercaya mengemban tugas sebagai Kepala Dinas Dukcapil Kabupaten Merangin.
‘’Jadilah pemimpin yang melayani, bukan yang ingin dilayani. Kerja cerdas, kerja tuntas dan tetaplah rendah hati dalam melayani. Layani masyarakat sampai ke pelosok desa terpencil dalam berbagai urusan, termasuk urusan kependudukan,’’ujar Bupati.
Bupati tidak ingin ada masyarakat yang kehilangan hak sipil, untuk itu gunakan teknologi informasi guna memangkas proses birokrasi yang berbelit-belit. Biasakan melayani masyarakat dengan cepat dan tepat.
Selain itu bupati menegaskan, pelantikan tersebut bukanlah sekadar seremoni mengisi kursi jabatan yang kosong. Pelantikan itu adalah pengukuhan janji dan pengabdian, dimana abatan adalah amanah yang dipertanggungjawabkan.
‘’Pertanggungjawaban itu tidak hanya kepada saya sebagai pimpinan, tetapi juga kepada masyarakat Kabupaten Merangin dan Tuhan yang Maha Esa,’’tegas Bupati bersemangat.
Lebih lanjut dikatakan bupati, dunia birokrasi menuntut transparan total dan perlu menekankan fungsi pengawasan. Jangan menunggu masalah muncul baru tindak dilakukan. Fungsi pengawasan adalah jantung dari Pemerintah yang bersih.
‘’Pengawasan lengkap minimal pada unit kerja masing masing dan pastikan setiap rupiah anggaran daerah dikelola dengan prinsip efisiensi dan berdampak langsung kepada rakyat mestinya,’’pinta Bupati.
Bupati juga mengingatkan bahwa data kependudukan adalah dasar dari seluruh kebijakan publik. Tanpa instansi kependudukan yang akurat, bantuan sosial tidak akan tepat sasaran, perencanaan akan bias dan pelayanan kesehatan akan terhambat.
(Bg nasri)
KALUMBATAN, SuaraIndonesia1.com — Desa Kalumbatan kembali diguncang. Bukan oleh bencana alam, melainkan oleh dugaan praktik kotor yang mencederai kepercayaan publik. Sebuah tangkapan layar percakapan WhatsApp berbahasa Bajo beredar luas di masyarakat. Isinya bukan sekadar komunikasi biasa—melainkan perintah yang diduga kuat mengarah pada praktik penggelapan dana dan pembagian fee proyek.
Dalam percakapan tersebut, tersirat instruksi terkait RAB (Rencana Anggaran Biaya) untuk rehab pasar desa dengan jalan rabat. Yang membuat publik geram, terdapat kalimat yang mengindikasikan pembagian dana: "antar sama Yongki, kalian ambil trus kita berbagi… 14 juta kita kondisikan bersama-sama." Bahkan, sosok yang diduga sebagai kepala desa disebut secara eksplisit dalam nada yang menekan: "saya kepala desa, tidak ada alasan apapun."
Aktivis muda Kalumbatan, Kevin Lapendos, angkat suara dengan nada keras dan tanpa kompromi.
"Ini bukan lagi sekadar dugaan pelanggaran administratif. Ini adalah indikasi penyalahgunaan kekuasaan secara terang-terangan. Jika benar ini dilakukan oleh kepala desa, maka jabatan telah dijadikan alat untuk merampok uang rakyat secara sistematis," tegas Kevin.
Kevin menilai, percakapan tersebut mencerminkan pola klasik korupsi di tingkat desa—di mana proyek publik dijadikan ladang bancakan oleh oknum yang seharusnya menjadi pelayan masyarakat.
"Kalimat 'kita berbagi' itu bukan bahasa pembangunan, itu bahasa pembagian hasil. Ini sangat berbahaya. Artinya, ada upaya mengondisikan anggaran sebelum proyek berjalan. Ini bukan hanya melanggar hukum, tapi juga menghina akal sehat masyarakat," lanjutnya.
Ia juga menyoroti frasa "tidak ada alasan apapun" yang dinilai sebagai bentuk tekanan kekuasaan yang arogan.
"Ini gaya komunikasi feodal. Kepala desa bukan raja. Tidak ada ruang untuk perintah sepihak yang beraroma intimidasi dalam pengelolaan uang publik," tambahnya dengan nada tajam.
Saat ini, tim advokasi yang tergabung bersama gerakan pemuda Kalumbatan tengah melakukan penelusuran mendalam untuk memastikan keaslian dan konteks percakapan tersebut. Namun Kevin menegaskan, mereka tidak akan berhenti pada tahap investigasi internal.
"Kami tidak akan ragu membawa ini ke ranah hukum. Jika terbukti, maka ini adalah pengkhianatan terhadap rakyat Kalumbatan. Tidak boleh ada kompromi untuk praktik kotor seperti ini," tegasnya.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius: apakah selama ini pengelolaan dana desa di Kalumbatan berjalan transparan, atau justru telah lama menjadi ladang permainan segelintir elite?
Kevin menutup dengan peringatan keras:
"Kami sedang mengawasi. Jika benar ini praktik korupsi, maka ini bukan akhir—ini awal dari perlawanan besar. Rakyat tidak boleh terus-menerus dijadikan objek permainan anggaran."
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak pemerintah desa Kalumbatan terkait beredarnya percakapan tersebut. Namun tekanan publik terus meningkat, dan satu hal kini pasti—Kalumbatan sedang berada di titik didih.
— REDAKSI —
suaraindonesia1 Adalah media online yang menyajikan informasi terkini serta terpercaya. Dibawah naungan badan hukum PT. SUARA KHARISMA BINTANG INDONESIA terdaftar legal di Kemenkumham dengan nomor: AHU-0117306.AH.01.11.TAHUN 2019
suaraindonesia1 berkantor pusat di PLAZA ALDEOS Jl. Warung Buncit Raya No. 39, Warung Jati Barat, RT 001/RW 09, Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta Selatan, Indonesia
Email : redaksi.skrinews@gmail.com
Telp/WA : 0822 250000 24
COPYRIGHT © SUARA INDONESIA 1