SULAWESI UTARA
Sulut/block-7/#E4D932
TOTIKUM SELATAN, SuaraIndonesia1.com — Koordinator Gerakan Aliansi Pemuda Kalumbatan, Kevin Lapendos, kembali melontarkan kritik tajam terhadap dugaan aktivitas galian C material domato di wilayah Kecamatan Totikum Selatan yang disebut dilakukan oleh seorang pengusaha berinisial YT.
Kevin mempertanyakan secara terbuka legalitas aktivitas tersebut. Menurutnya, pemerintah tidak boleh membiarkan kegiatan komersial yang menggunakan alat berat berjalan tanpa kepastian mengenai izin, lokasi pertambangan, dokumen lingkungan, serta kewajiban reklamasi dan pengawasan.
“Pertanyaan saya sederhana: apakah aktivitas galian domato tersebut sudah memiliki izin resmi? Kalau memang ada, pemerintah harus berani membuka dan menjelaskan kepada masyarakat. Kalau tidak ada, jangan dibiarkan berjalan seolah-olah tidak ada aturan,” tegas Kevin.
Secara hukum, kegiatan usaha pertambangan mineral dan batuan bukan aktivitas yang dapat dilakukan semata-mata berdasarkan izin informal atau sekadar sepengetahuan pemerintah setempat. Regulasi pertambangan mengatur perizinan usaha pertambangan dan kewajiban lingkungan sebagai bagian dari penyelenggaraan kegiatan pertambangan. UU Minerba juga telah mengalami perubahan, termasuk melalui UU Nomor 3 Tahun 2020, dengan pengaturan perizinan serta pengelolaan lingkungan dalam kegiatan pertambangan.
Kevin menilai persoalan tersebut harus diperiksa secara menyeluruh, bukan hanya melihat apakah terdapat aktivitas penggalian. Pemerintah perlu memastikan status izin pertambangan, legalitas lokasi, kesesuaian tata ruang, persetujuan/dokumen lingkungan, serta kewajiban pengelolaan dan pemulihan lingkungan.
“Jangan hanya karena materialnya tanah atau domato kemudian dianggap tidak perlu izin. Kalau material tersebut digali menggunakan excavator, dilakukan secara terus-menerus dan kemudian diperjualbelikan secara komersial, maka aspek legalitas dan lingkungan wajib diperiksa,” ujar Kevin.
Ia juga menyoroti penggunaan alat berat yang sebelumnya disebut melintas di area jalan raya. Menurutnya, apabila kendaraan atau alat berat digunakan tanpa memperhatikan kapasitas dan kondisi jalan, masyarakat dapat menjadi pihak yang menanggung dampaknya.
“Jalan raya bukan milik pengusaha. Jalan itu fasilitas publik. Kalau aktivitas alat berat menyebabkan jalan rusak, siapa yang bertanggung jawab? Jangan sampai keuntungan dinikmati segelintir orang, sementara kerusakan infrastrukturnya dibebankan kepada masyarakat,” katanya.
Dari sisi lingkungan, Kevin mengingatkan bahwa aktivitas penggalian yang tidak dikendalikan berpotensi menimbulkan perubahan bentang alam, erosi, sedimentasi, kerusakan drainase, hingga persoalan keselamatan masyarakat. UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mengatur kewajiban dan larangan terkait perlindungan lingkungan serta memuat ketentuan pidana apabila terjadi pencemaran atau kerusakan lingkungan dalam kondisi yang memenuhi unsur pidana.
Karena itu, Kevin mendesak pemerintah setempat tidak sekadar memberikan jawaban normatif, tetapi melakukan verifikasi lapangan dan membuka informasi legalitas kegiatan tersebut kepada masyarakat.
“Kalau izinnya lengkap, tunjukkan. Kalau memang sesuai aturan, jelaskan kepada masyarakat. Tetapi kalau ditemukan pelanggaran, pemerintah jangan pura-pura tidak tahu. Negara harus hadir sebelum persoalan ini menjadi lebih besar,” tegasnya.
Kevin mengatakan persoalan galian domato bukan satu-satunya persoalan yang tengah menjadi perhatian Aliansi Pemuda Kalumbatan. Ia menyebut sebelumnya pihaknya juga telah mempertanyakan sejumlah persoalan kepada pemerintah setempat, termasuk persoalan lahan yang berkaitan dengan kantor BPD Kalumbatan.
Menurut Kevin, rangkaian persoalan tersebut menunjukkan pentingnya transparansi dan keberanian pemerintah dalam memberikan penjelasan kepada masyarakat.
Ia menegaskan bahwa dalam waktu dekat Aliansi Pemuda Kalumbatan akan melakukan aksi demonstrasi sebagai bentuk tekanan publik untuk meminta pemerintah menindaklanjuti berbagai persoalan yang selama ini dipertanyakan.
“Kami tidak ingin pemerintah baru bergerak setelah masyarakat turun ke jalan. Pemerintah seharusnya lebih dulu hadir, melakukan pengawasan dan memberikan kepastian hukum. Kalau pertanyaan masyarakat terus dibiarkan tanpa jawaban, maka jangan salahkan masyarakat ketika memilih menyampaikan aspirasi secara terbuka,” kata Kevin.
Bagi Kevin, persoalan ini bukan sekadar mengenai satu pengusaha atau satu lokasi galian. Yang dipertanyakan adalah apakah hukum dan pengawasan pemerintah benar-benar berlaku sama bagi semua orang.
“Jangan sampai masyarakat kecil dituntut patuh terhadap aturan, sementara aktivitas usaha yang berpotensi berdampak terhadap lingkungan dan fasilitas publik justru dibiarkan tanpa kejelasan. Kalau negara masih punya wibawa, maka aturan harus berdiri di atas kepentingan siapa pun,” pungkasnya.
Kevin menegaskan, pihaknya akan terus mengawal persoalan tersebut dan mendorong agar instansi yang berwenang melakukan pemeriksaan secara terbuka terhadap dugaan aktivitas galian domato tersebut.
Rep: JO
Babinsa Koramil 1709-04/Ansus, Sertu Engel Dumatubun, bersama warga bahu-membahu menyiapkan lahan yang berada di atas bukit. Pekerjaan dilakukan dengan meratakan sekaligus menimbun tanah agar lokasi siap digunakan untuk mendukung pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih.
Antusiasme warga terlihat begitu tinggi. Ibu-ibu hingga anak-anak turut hadir dan mengambil bagian dalam kegiatan gotong royong tersebut. Kebersamaan ini menjadi gambaran nyata kuatnya semangat masyarakat dalam mendukung pembangunan di kampung mereka.
Sertu Engel Dumatubun mengatakan, keterlibatan Babinsa merupakan bentuk kepedulian sekaligus pendampingan kepada masyarakat dalam setiap proses pembangunan di wilayah binaannya.
“Kami bersama warga bergotong royong menyiapkan lokasi ini. Medannya memang cukup menantang karena berada di atas bukit, sehingga tanah harus diratakan dan ditimbun. Namun, dengan semangat kebersamaan, pekerjaan dapat dilakukan dengan baik,” ujar Sertu Engel Dumatubun.
Menurutnya, pembangunan akan lebih mudah diwujudkan apabila seluruh elemen masyarakat memiliki kepedulian dan semangat untuk bekerja bersama.
“Yang paling penting adalah kekompakan. Kami berharap pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih ini nantinya dapat memberikan manfaat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kampung Ausem,” tambahnya.
Kegiatan tersebut berlangsung penuh semangat dan kekeluargaan. Gotong royong antara Babinsa dan masyarakat menjadi bukti nyata sinergi TNI bersama rakyat dalam mendukung pembangunan serta kemajuan wilayah Kampung Ausem.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Bupati Kepulauan Yapen Benyamin Arisoy, S.E., M.Si., dan dihadiri unsur Forkopimda, DPRK, TNI-Polri, jajaran pemerintah daerah, tokoh adat, agama, pemuda dan masyarakat, para Paskibraka serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Bupati Kepulauan Yapen menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh panitia, masyarakat, serta seluruh pihak yang telah menyukseskan rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kabupaten Kepulauan Yapen, khususnya para Paskibraka yang telah menjalankan tugas dengan baik.
Bupati mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum HUT ke-81 RI sebagai sarana memperkuat persatuan, toleransi, gotong royong dan kebersamaan demi menjaga Kabupaten Kepulauan Yapen tetap aman, damai dan sejahtera.
“Mari kita isi kemerdekaan dengan kerja keras dan kerja nyata untuk membangun Indonesia, Papua dan Kabupaten Kepulauan Yapen sebagai rumah yang berkeadilan, unggul dan sejahtera,” pesannya.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama, ucapan selamat ulang tahun kemerdekaan, pemotongan tumpeng oleh Bupati Kepulauan Yapen, serta acara ramah tamah dan toast bersama unsur pemerintah daerah, TNI-Polri dan para tamu undangan.
Sementara itu, Dandim 1709/Yawa Letkol Inf Ahmad Albar, S.H. menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada seluruh petugas Paskibraka yang telah berhasil melaksanakan tugas pengibaran dan penurunan Sang Merah Putih dengan baik.
“Ini merupakan momentum penting yang telah kita sukseskan bersama. Saya mengajak seluruh masyarakat untuk terus mengimplementasikan rasa bangga dan cinta tanah air dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Dandim menegaskan, Kodim 1709/Yawa bersama Polri akan terus berkomitmen menjaga keamanan serta mendampingi masyarakat dalam mendukung dan menyukseskan berbagai program pemerintah di wilayah Kabupaten Kepulauan Yapen.
Oleh : Rian Maulana S.T
JAKARTA, SuaraIndonesia1.com – Di HUT RI ke-81 tahun, Indonesia sering berbicara tentang kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran sebagai cita-cita bersama. Namun, realitas di lapangan masih menghadirkan pertanyaan besar: apakah kemerdekaan dan kemakmuran itu benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat, atau hanya dinikmati oleh mereka yang dekat dengan kekuasaan?
Masalah korupsi masih menjadi salah satu tantangan serius. Ketika uang dan anggaran yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat justru disalahgunakan, yang dirugikan bukan hanya negara, tetapi juga rakyat yang kehilangan hak atas pelayanan publik, pembangunan, kesehatan, dan pendidikan yang layak. Kekuasaan seharusnya menjadi amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya diri dan kelompok.
Di sisi lain, pembangunan yang belum merata membuat kesenjangan antardaerah masih terasa. Ada wilayah yang berkembang pesat dengan infrastruktur dan fasilitas modern, sementara daerah lainnya masih menghadapi keterbatasan jalan, jaringan internet, fasilitas kesehatan, hingga sarana pendidikan. Pembangunan nasional seharusnya tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat ekonomi, tetapi harus hadir hingga pelosok negeri.
Persoalan sulitnya akses pekerjaan juga menjadi beban bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Pendidikan dan keterampilan yang dimiliki belum selalu sejalan dengan ketersediaan lapangan kerja. Banyak masyarakat akhirnya harus berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, sementara kesempatan dan akses ekonomi terkadang lebih mudah diperoleh oleh mereka yang memiliki modal, koneksi, atau kedekatan dengan kekuasaan.
Begitu pula dengan akses pendidikan yang belum sepenuhnya merata. Pendidikan seharusnya menjadi jalan untuk memutus rantai kemiskinan dan membuka kesempatan yang lebih luas bagi setiap anak bangsa. Namun, masih terdapat masyarakat yang menghadapi keterbatasan biaya, fasilitas, tenaga pendidik, maupun akses terhadap teknologi. Jika pendidikan hanya mudah dijangkau oleh mereka yang mampu, maka cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa belum sepenuhnya terwujud.
“Berdaulat di Atas Kertas, Makmur di Lingkaran Kekuasaan,” ujarnya.
Karena itu, Indonesia berdaulat, adil, dan makmur tidak boleh hanya menjadi slogan di atas panggung politik. Kedaulatan harus dirasakan rakyat, keadilan harus berlaku tanpa pandang bulu, dan kemakmuran harus dibagikan secara lebih merata. Rakyat tidak membutuhkan janji yang terus diulang, tetapi membutuhkan pemerintahan yang bersih, pembangunan yang merata, pekerjaan yang layak, serta pendidikan yang dapat diakses oleh semua.
Indonesia bukan milik para penguasa, apalagi antek-antek asing. Indonesia adalah milik seluruh rakyatnya. Dan selama masih ada korupsi, ketimpangan pembangunan, sulitnya memperoleh pekerjaan, serta pendidikan yang belum merata, maka perjuangan untuk mewujudkan Indonesia yang benar-benar berdaulat, adil, dan makmur masih harus terus dilanjutkan.
Rep: JO
Oleh: Mohamad Zachary Rusman, S.H., M.H. (Penceramah Pancasila dan Kewarganegaraan)
JAKARTA, SuaraIndonesia1.com – Setiap kali saya memasuki ruang kelas untuk membawakan mata kuliah Pancasila atau Kewarganegaraan, saya selalu memulai dengan sebuah tebakan ringan: "Pasti teman-teman sudah bosan dengan materi ini, kan? Karena dari SD, SMP, hingga perguruan tinggi, topiknya selalu sama." Seketika ruangan menjadi sunyi. Ada yang tersenyum malu, ada yang saling berpandangan dengan ekspresi beragam—ada rasa bosan, ada rasa penasaran, ada pula rasa skeptis yang tak terucapkan.
Saya tidak marah. Saya justru memahami mereka. Mengapa? Karena selama ini, Pancasila dan Kewarganegaraan kerap disampaikan sebagai hafalan. Sebagai susunan kalimat sakral yang harus dihafal di luar kepala, tetapi jarang menyentuh akal sehat, apalagi hati nurani. Ini adalah fakta menyedihkan yang harus kita akui bersama: pendidikan karakter kita sering kehilangan ruhnya karena metode yang itu-itu saja.
Namun, di jenjang perguruan tinggi, saya meyakini pendekatannya harus berbeda. Saya selalu katakan kepada mereka: "Mata kuliah ini bukan sekadar matakuliah seremonial. Ini adalah obat lupa. Obat yang akan menjadi pengingat ketika kita—sebagai generasi penerus—mulai melupakan jati diri kita sebagai warga negara dari bangsa yang besar." Saya juga menambahkan bahwa materinya memang sama, tetapi metodenya tidak. Fokus pembelajaran di tingkat ini bukan lagi pada penghafalan sila atau pembacaan teks Pembukaan UUD 1945 secara literal. Lebih dari itu, kita diajak untuk menyelam lebih dalam—menggali bagaimana negara ini tertatih-tatih berjuang, bagaimana para founding fathers mengorbankan jiwa dan raga, dan bagaimana kemerdekaan ini diperjuangkan dengan tetes darah terakhir agar generasi mendatang tidak terjajah dan tidak terdzalimi lagi.
Dengan pendekatan yang saya sebut sebagai metode semi-doktrin yang reflektif, saya berusaha menghadirkan suasana kebatinan para pejuang. Bukan dengan menggurui, tetapi dengan membawa mahasiswa masuk ke dalam narasi sejarah yang hidup. Saya ajak mereka merasakan kegelisahan Bung Karno saat merumuskan Pancasila, kegigihan Bung Hatta dalam memperjuangkan kemerdekaan ekonomi, dan keberanian para pemuda dalam Sumpah Pemuda yang menyatukan Nusantara. Hasilnya? Kelas yang semula hening berubah menjadi ramai. Mereka bertanya, mereka mengkritik, mereka berdebat tentang penyelenggaraan negara. Mereka tidak lagi pasif; mereka menjadi subjek yang merasa memiliki bangsa ini. Itulah tujuan sesungguhnya dari pendidikan kewarganegaraan: menciptakan warga negara yang kritis, cinta tanah air, dan bertanggung jawab.
Ironi di Daerah Sendiri
Namun, di tengah semangat membangun kesadaran kebangsaan di ruang kelas, saya dikejutkan oleh kenyataan pahit di daerah saya sendiri: anggaran Paskibraka dipotong, sehingga upacara kemerdekaan di tingkat kecamatan ditiadakan. Alasan yang diberikan adalah klasik: efisiensi anggaran.
Saya memahami logika efisiensi secara administratif. Dalam kondisi keuangan yang terbatas, setiap rupiah memang harus dihitung dan dipertimbangkan. Saya juga tidak sedang menolak kebijakan penghematan secara buta. Namun, saya mempertanyakan: apakah efisiensi harus selalu berarti meniadakan? Apakah menghemat harus selalu berarti mengorbankan ruh kebangsaan?
Upacara kemerdekaan di kecamatan bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah: momen mendekatkan diri kepada nilai-nilai perjuangan, momen mengingat kembali pengorbanan para pahlawan, momen recharge kecintaan kita terhadap negara. Ketika upacara di tingkat kecamatan ditiadakan, maka yang hilang bukan sekadar barisan Paskibraka atau seremoni bendera. Yang hilang adalah ruang publik untuk berkontemplasi bersama tentang makna kemerdekaan. Yang hilang adalah kesempatan bagi masyarakat akar rumput untuk turut merasakan atmosfer sakral 17 Agustus. Yang hilang adalah momentum kebersamaan lintas desa untuk saling mengingatkan bahwa mereka adalah bagian dari bangsa yang besar.
Bayangkan seorang anak di pelosok kecamatan yang setiap tahunnya menonton upacara dengan penuh rasa bangga. Ia melihat Paskibraka berbaris gagah, mendengar lagu kebangsaan dikumandangkan, dan merasakan getaran nasionalisme di dadanya. Tahun ini, karena anggaran dipotong, ia hanya akan mendengar bahwa "tidak ada upacara tahun ini." Apa pesan yang ia terima? Bahwa peringatan kemerdekaan adalah sesuatu yang bisa "dihemat"? Bahwa penghormatan kepada pahlawan bisa "ditiadakan" demi hitungan angka?
Saya sedih. Bukan karena saya menolak efisiensi, tetapi karena saya melihat ada kekeliruan mendasar: menyamakan biaya dengan makna. Efisiensi adalah persoalan teknis. Makna kemerdekaan adalah persoalan eksistensial bangsa. Keduanya tidak boleh dipertukarkan.
Penutup: Jangan Biarkan Ruh Kemerdekaan Lenyap
Sebagai pengajar, saya meyakini bahwa pendidikan kewarganegaraan harus membekas di hati, bukan hanya di buku catatan. Dan sebagai warga negara, saya meyakini bahwa peringatan kemerdekaan harus hadir di setiap sudut negeri, bukan hanya di ibu kota. Kita boleh berhemat dalam biaya, tetapi jangan pernah berhemat dalam cinta tanah air. Kita boleh mengurangi anggaran, tetapi jangan pernah mengurangi kesempatan bagi rakyat untuk merenungkan perjuangan para pendiri bangsa.
Kemerdekaan bukanlah barang murah. Ia dibayar dengan nyawa, keringat, dan air mata. Karena itu, menghormatinya pun tidak boleh dilakukan dengan perhitungan untung-rugi semata. Ada harga yang harus tetap kita bayar: kesetiaan untuk terus mengingat, merayakan, dan memperjuangkan cita-cita kemerdekaan.
Sekali lagi, efisiensi tidak cukup untuk mengugurkan peringatan kemerdekaan. Karena peringatan itu bukan pengeluaran; ia adalah investasi jiwa bangsa.
"Pengorbanan para pahlawan tidak bisa dihitung dengan uang. Maka penghormatan kita pun tidak boleh dihitung dengan anggaran."
Rep: JO
Kegiatan resepsi ini merupakan puncak dari seluruh rangkaian perayaan peringatan kemerdekaan di Kabupaten Waropen, setelah sebelumnya dilangsungkan Upacara Pengibaran dan Penurunan Bendera Sang Merah Putih di Lapangan Elias Paprindei.
Kasat Lantas Polres Waropen Iptu Jimmy Lufkey, S.I.P., M.H. Selaku Dantim Pelatih Paskibraka Dalam Pesan dan kesannya Menyampaikan Secara khusus, kami selaku pelatih mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Waropen yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk melatih putra-putri terbaik Kabupaten Waropen menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka Tahun 2026, Perlu kami sampaikan bahwa proses latihan telah berlangsung kurang lebih selama 23 hari. Selama proses tersebut, kami melakukan pembinaan, pembentukan disiplin, pemantapan mental, fisik, sikap dan keterampilan baris-berbaris, sehingga anak-anak ini dapat melaksanakan tugas negara dengan baik pada saat pengibaran maupun penurunan Bendera Merah Putih
Kepada anak-anak Paskibraka yang pada malam hari ini telah menyelesaikan tugas negara, kami ucapkan selamat dan terima kasih atas dedikasi serta pengorbanan yang telah diberikan.
Setelah kalian menyelesaikan tugas sebagai Paskibraka, kalian bukan lagi sekadar siswa yang telah mengikuti latihan, tetapi kalian telah menjadi bagian dari keluarga besar Purna Paskibraka.
Oleh karena itu, tetaplah menjaga disiplin, mental, sikap dan karakter yang telah dibentuk selama latihan. Apa yang telah kalian dapatkan selama menjadi Paskibraka hendaknya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari "Tegas Jimmy Lufkey" dan Mengakhiri Pesan dan kesannya
Bupati Waropen, Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si., hadir didampingi Wakil Bupati Yowel Boari, jajaran Forkopimda Waropen, Pimpinan dan Anggota DPRK, para Kepala OPD, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Waropen.
Dalam sambutannya, Bupati Waropen menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan rangkaian kegiatan peringatan HUT RI ke-81 di "Negeri Sejuta Bakau" tersebut.
"Momentum peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 ini hendaknya tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi pelecut semangat bagi kita semua di Waropen untuk terus memperkuat persatuan, menjaga keharmonisan, serta bekerja keras membangun daerah demi kesejahteraan masyarakat," ujar Fransiscus X. Mote.
Bupati juga memberikan penghargaan dan rasa bangganya kepada jajaran pelatih dan anggota Paskibraka Waropen yang telah menjalankan tugas pengibaran serta penurunan bendera dengan sangat baik dan penuh kedisiplinan.
Malam Resepsi Kenegaraan diwarnai dengan pemotongan tumpeng kemerdekaan oleh Bupati dan Wakil Bupati, yang diserahkan kepada perwakilan veteran dan perwakilan anggota Paskibraka. Acara diakhiri dengan ramah tamah.
Kegiatan berlangsung khidmat sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya para pejuang di bidang kemaritiman.
Upacara dipimpin langsung oleh jajaran pimpinan TNI/Polri Kabupaten Waropen dan dihadiri Forkopimda, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), personel Polairud, serta perwakilan organisasi kepemudaan.
Rangkaian prosesi diawali dengan penghormatan pasukan kepada arwah para pahlawan dan mengheningkan cipta. Selanjutnya, Inspektur Upacara melarungkan karangan bunga utama ke perairan Pelabuhan Waren, kemudian dilanjutkan dengan tabur bunga oleh seluruh tamu undangan dan peserta upacara.
“Ziarah laut ini mengingatkan kita bahwa perjuangan menjaga kedaulatan NKRI tidak hanya di daratan, tetapi juga di perairan. Laut Waropen adalah bagian integral dari benteng pertahanan dan sumber kehidupan bangsa,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Ziarah laut ini sekaligus menjadi momentum untuk mengingatkan generasi muda di Kabupaten Waropen agar terus menjaga persatuan, memperkuat semangat dan jiwa bahari, serta meneruskan cita-cita para pahlawan melalui pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, lancar, dan penuh kekhusyukan hingga kapal patroli yang digunakan dalam prosesi kembali bersandar di dermaga.
Waropen-Suaraindonesia1.com. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Pemerintah Kabupaten Waropen menggelar upacara ziarah laut dan tabur bunga di perairan Pelabuhan Waren, Senin (17/8/2026) siang.
Kegiatan berlangsung khidmat sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya para pejuang di bidang kemaritiman.
Upacara dipimpin langsung oleh jajaran pimpinan TNI/Polri Kabupaten Waropen dan dihadiri Forkopimda, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), personel Polairud, serta perwakilan organisasi kepemudaan.
Rangkaian prosesi diawali dengan penghormatan pasukan kepada arwah para pahlawan dan mengheningkan cipta. Selanjutnya, Inspektur Upacara melarungkan karangan bunga utama ke perairan Pelabuhan Waren, kemudian dilanjutkan dengan tabur bunga oleh seluruh tamu undangan dan peserta upacara.
“Ziarah laut ini mengingatkan kita bahwa perjuangan menjaga kedaulatan NKRI tidak hanya di daratan, tetapi juga di perairan. Laut Waropen adalah bagian integral dari benteng pertahanan dan sumber kehidupan bangsa,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Ziarah laut ini sekaligus menjadi momentum untuk mengingatkan generasi muda di Kabupaten Waropen agar terus menjaga persatuan, memperkuat semangat dan jiwa bahari, serta meneruskan cita-cita para pahlawan melalui pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, lancar, dan penuh kekhusyukan hingga kapal patroli yang digunakan dalam prosesi kembali bersandar di dermaga.
Bupati Waropen Drs. F.X.Mote, M.si, bertindak langsung sebagai Inspektur Upacara, sementara naskah Proklamasi dibacakan oleh Ketua DPRD Kabupaten Waropen Yeneke S.K. Dippan, S.Sos Sendangkan Perwira Upacara AKP Frits B. Arera, S.Sos. (Kabag Ops Polres Waropen dan Pemimpin Upacara Ipda Ipda Angel Ripka Hawar, S.Sos.,M.I.P, CPHR,CBA Kasat Intelkam Polres Waropen, Hadir dalam jajaran panggung kehormatan jajaran Forkopimda, tokoh masyarakat, tokoh adat serta pimpinan OPD Kabupaten Waropen.
Momen Krusial Upacara Memperingati Detik Derik Proklamasi HUT RI, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Waropen Yang Di Pimpin Danpas Pagi Iptu Jummy LufkeyS.I.P., M.H., sukses menjalankan tugas mengibarkan Sang Merah Putih dengan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Detik-Detik Proklamasi: Sirine dan dentuman pertanda peringatan detik-detik proklamasi menggema tepat pada pukul 10.00 WIT, membawa suasana haru dan bangga di tengah lapangan upacara.
"Kapolres waropen Akbp. Tofan Irdiyanto, S.Sos, Memerintahkan Personil Polres waropen dalam menjaga siruasi kamtibmas selama upacara Peringatan HUT RI ke-81 ini menjadi momentum penting bagi kita di Kabupaten Waropen untuk mempererat persatuan, menjaga kedamaian, dan memacu pembangunan daerah demi kesejahteraan bersama di Tanah Bakau waropen. Ujar Tofan Kapolres Waropen"
Rangkaian acara ditutup den Seluruh prosesi Peringatan HUT RI Ke-81 berjalan dengan lancar, aman, dan tertib hingga upacara selesai.
Upacara yang dipusatkan di lapangan Elias Paprindei Kabupaten Waropen Upacara tersebut dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Waropen, unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, tokoh adat, pelajar, serta masyarakat kabupaten waropen.
Wakil Bupati Waropen Yoel Boari, bertindak sebagai Inspektur Upacara. Jalannya prosesi penurunan bendera dipimpin oleh perwira Akp. Pitrisiana,S.H., Kabag SDM Polres Waropen, sementara Komandan Upacara Ipda. Daniel G .Ayorbaba, Ipda Steve Rumbewas Bertindak Sebagai Danton Pasukan Penurunan Bendera Pusaka Kabupaten Waropen menjalankan tugasnya dengan presisi dan disiplin tinggi.
Suasana haru dan bangga menyelimuti lapangan saat Paskibraka melangkah pasti mendekati tiang bendera. Dengan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya, bendera Merah Putih berhasil diturunkan dengan sempurna dan diserahkan kembali kepada Inspektur Upacara di panggung utama.
Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Waropen menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya para anggota Paskibraka dan pelatih, atas kerja keras serta dedikasi selama masa latihan hingga suksesnya penyelenggaraan upacara pengibaran maupun penurunan bendera.
Rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-81 RI di Kabupaten Waropen kemudian ditutup dengan panggung hiburan rakyat dan ramah tamah sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan serta momentum untuk mempererat tali silaturahmi seluruh elemen masyarakat Waropen.
Upacara berlangsung khidmat di halaman Kantor Camat Singkut. Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pemerintah kecamatan, unsur Forko pimcam, kepala desa, tokoh masyarakat, serta pelajar dari tingkat SD, SMP hingga SMA sederajat.
Tampak hadir , AKP Romi Habibi. F, SH, Kapolsek singkut, M. Maini S.pd.I Canat Singkut, beserta staf dan pegawai Kantor Camat Singkut Selain itu, hadir para kepala desa, Ketua APDESI Kecamatan Singkut Hendra, S. IP serta sejumlah tokoh masyarakat.
Beberapa kepala desa yang hadir di antaranya Kepala Desa Bukit Tigo Hendra S. IP, Kepala Desa Sungai Gedang Kuswanto S. IP, Kepala Desa Talang Mas Budi, Kepala Desa Sendang Sari Sujalmo. Kepala Desa Bukit Murau Nurhayadi, Kepala Desa Simpang Nibung Kusnadi, Kepala Desa Simpang Nibung Kusnadi. Turut hadir para siswa dan siswi dari sejumlah sekolah di Kecamatan Singkut.
Kehadiran para pelajar sebagai petugas upacara sekaligus menjadi gambaran semangat nasionalisme generasi muda. Mereka mendapat kesempatan untuk menunjukkan kedisiplinan, tanggung jawab, serta kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Upacara pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Singkut berlangsung dengan tertib dan khidmat.
Momentum tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus menjaga semangat persatuan, gotong royong, dan nilai-nilai perjuangan para pahlawan dalam mengisi kemerdekaan.
Djarnawi Kusuma
Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan semangat nasionalisme. Perayaan tersebut menjadi momentum untuk mempererat persatuan, menumbuhkan semangat gotong royong, serta mengajak seluruh elemen bangsa bersama-sama mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata.
Wakil Ketua Umum Seknas Indonesia Maju, *Mulyadi* , mengatakan HUT ke-81 RI harus menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan kebersamaan.
“Kemerdekaan bukan hanya untuk kita rayakan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kemajuan Indonesia membutuhkan persatuan dan kerja bersama. Dengan bersatu, kita akan lebih kuat untuk membawa Indonesia maju,” kata Mulyadi.
Menurutnya, perbedaan harus menjadi kekuatan dalam membangun bangsa. Karena itu, seluruh masyarakat diharapkan terus menjaga persatuan dan memberikan kontribusi positif sesuai dengan perannya masing-masing.
Sementara itu, Ketua Umum Seknas Indonesia Maju, *Monisyah, SE* menegaskan bahwa peringatan HUT RI ke-81 tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata.
“Di usia kemerdekaan yang ke-81 ini, mari kita jadikan semangat kemerdekaan sebagai energi untuk terus bersatu, bergotong royong, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia,” ujar Monisyah.
Monisyah menilai perbedaan merupakan bagian dari kekuatan bangsa yang harus dikelola dengan semangat persaudaraan dan mengedepankan kepentingan nasional.
“Kita harus menjaga persatuan, memperkuat rasa kebangsaan, dan bersama-sama mengawal cita-cita kemerdekaan menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh jajaran Seknas Indonesia Maju untuk terus menjaga komitmen organisasi agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat serta ikut berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
Perayaan HUT ke-81 RI di Seknas Indonesia Maju ditutup dengan semangat kebersamaan dan tekad untuk terus menjaga persatuan.
“Bersatu untuk Maju, Indonesia Maju,” pungkasnya.
Report, Ida
BOLMONG SELATAN, SuaraIndonesia1.com – Momen khidmat peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) menjadi pengalaman berharga bagi Regina Putri Kirana Mohamad. Siswi SMA Negeri Posigadan yang akrab disapa Egin ini dipercaya mengemban amanah sebagai pembawa baki dalam prosesi penurunan Bendera Merah Putih.
Meskipun sempat diliputi rasa gugup, gadis kelahiran Desa Pakuku Jaya, 14 April 2010, ini mampu menunjukkan penampilan terbaiknya. Dengan konsentrasi penuh, Regina menuntaskan setiap tahapan tugasnya hingga seluruh rangkaian prosesi penurunan bendera berakhir dengan tertib dan khidmat. Kepercayaan yang diberikan ini menjadi pengalaman signifikan dalam perjalanan hidupnya sebagai generasi muda.
"Kondisi fisik saya baik, tetapi saya sempat agak deg-degan dan gugup," ungkap Regina sebelum pelaksanaan prosesi.
Meski demikian, rasa cemas itu tidak menyurutkan semangatnya. Bersama seluruh anggota Paskibraka, Regina berhasil mengatasi kegugupan dan menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab.
Sebelum pelaksanaan, Regina pun sempat memanjatkan doa dan dukungan dari berbagai pihak.
"Kepada semua pihak, saya mohon doa agar prosesi penurunan bendera sebentar bisa berjalan lancar tanpa hambatan," harapnya.
Harapan itu akhirnya terwujud. Setelah menuntaskan tugas, rasa lega dan bangga menyelimuti dirinya.
"Momen ini sebagai wujud kebanggaan bagi keluarga yang terus memberikan support kepada saya dan rasa haru akhirnya berhasil menuntaskan tugas mulia ini," ujar Regina dengan mata berbinar.
Bagi Regina, momen ini bukan sekadar seremonial, melainkan bukti kepercayaan dan pengalaman berharga yang akan ia kenang. Keberhasilannya menyelesaikan tugas juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarganya yang senantiasa mendukung penuh perjalanannya.
Penampilan Regina menjadi salah satu cerita di balik suksesnya peringatan HUT ke-81 RI di Bolsel, membuktikan bahwa seorang pelajar dari Desa Pakuku Jaya, Kecamatan Tomini, mampu mengemban amanah negara dengan penuh dedikasi. Ia berhasil mengubah rasa gugup menjadi kebanggaan di hadapan masyarakat Bolaang Mongondow Selatan.
Rep: JO
Upacara yang dipimpin langsung oleh Bupati Waropen, Drs. Fransiscus X. Mote, M.Si., selaku Inspektur Upacara tersebut dihadiri unsur Forkopimda, TNI-Polri, DPRK Waropen, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.
Momentum peringatan kemerdekaan semakin semarak dengan keterlibatan pasukan upacara yang terdiri dari TNI, Polri, Satpol PP, ASN, mahasiswa, pelajar SD, SMP, SMA, serta penampilan drumband dan paduan suara. Prosesi pengibaran Sang Merah Putih oleh putra-putri terbaik Kabupaten Waropen berlangsung sukses dan penuh makna.
Dalam kegiatan tersebut, personel Koramil 1709-03/Warbah turut melaksanakan pengamanan guna memastikan seluruh rangkaian acara berjalan aman, tertib, dan lancar. Kehadiran prajurit TNI menjadi wujud nyata sinergi antara TNI, Polri, Pemerintah Daerah, dan masyarakat dalam menjaga persatuan serta memperkuat semangat kebangsaan di Kabupaten Waropen.
Usai pelaksanaan upacara, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan prosesi tabur bunga di laut yang berlangsung di Pelabuhan Pidemani Waren, Kampung Ronggaiwa, Distrik Ureifaisei. Kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan dan penghargaan kepada para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia.
Melalui peringatan HUT ke-81 RI ini, semangat nasionalisme, persatuan, dan gotong royong diharapkan terus terjaga sebagai modal utama dalam membangun Kabupaten Waropen dan Indonesia yang semakin maju.
Koramil 1709-04/Ansus turut ambil bagian dalam menyukseskan pelaksanaan upacara di tiga wilayah tersebut. Kegiatan dipimpin oleh masing-masing Kepala Distrik, dengan personel TNI-Polri turut dipercaya sebagai pelaksana upacara.
Upacara turut dihadiri Anggota DPRK Kabupaten Kepulauan Yapen, PNS, para tokoh adat dan tokoh agama, serta diikuti personel TNI-Polri, PNS, dan para pelajar.
Seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, sukses, dan penuh khidmat. Antusiasme masyarakat dan peserta upacara mencerminkan kuatnya semangat persatuan serta jiwa nasionalisme dalam memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah Koramil 1709-04/Ansus.
Momentum tersebut sekaligus menjadi wujud nyata sinergitas TNI-Polri, pemerintah distrik, dan masyarakat dalam menjaga semangat kebangsaan serta mengisi kemerdekaan dengan kebersamaan dan pengabdian.
Di wilayah binaan Koramil 1709-01/Serui, rangkaian upacara dilaksanakan di Distrik Kosiwo,Angkaisera, Nusawani, Kepulauan Ambai dan Yawakukat. Kegiatan dipimpin langsung oleh masing-masing Kepala Distrik, sementara personel Babinsa Koramil 1709-01/Serui dipercaya bertindak sebagai Komandan Upacara.
Keterlibatan Babinsa dalam pelaksanaan upacara tersebut menjadi wujud nyata sinergi TNI bersama pemerintah distrik dan masyarakat dalam memperingati momentum bersejarah kemerdekaan bangsa sekaligus menumbuhkan semangat nasionalisme di tengah masyarakat.
Plh. Danramil 1709-01/Serui, Lettu Inf Abdup Latif, mengatakan bahwa keterlibatan personel Koramil dalam setiap rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI merupakan bentuk komitmen TNI untuk hadir dan bersinergi bersama pemerintah serta masyarakat di wilayah binaan.
“Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi kesempatan untuk mempererat persatuan, meningkatkan semangat kebangsaan, serta mengenang jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Koramil 1709-01/Serui akan terus mendukung berbagai kegiatan positif yang dilaksanakan pemerintah dan masyarakat, khususnya yang dapat memperkokoh kebersamaan serta menjaga persatuan dan kesatuan di wilayah Kabupaten Kepulauan Yapen.
Pelaksanaan upacara berlangsung dengan tertib, aman, dan penuh khidmat, sebagai refleksi semangat Indonesia Berdaulat,Adil,dan Makmur.
Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Bupati Kepulauan Yapen Benyamin Arisoy, S.Sos., M.Si., memimpin langsung seluruh rangkaian prosesi yang menjadi puncak peringatan HUT Kemerdekaan RI di Kabupaten Kepulauan Yapen.
Upacara turut dihadiri Dandim 1709/Yawa Letkol Inf Ahmad Albar, S.H., bersama Ketua Persit KCK Cabang XXII Dim 1709/Yawa Ny. Dian A. Albar, jajaran Forkopimda, pimpinan OPD, serta para tamu undangan.
Semarak peringatan kemerdekaan semakin terasa dengan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari TNI-Polri, Satpol PP, Pemadam Kebakaran, ASN, mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat Kabupaten Kepulauan Yapen. Kehadiran seluruh elemen tersebut menjadi cerminan kuatnya semangat persatuan dan kebersamaan dalam memperingati perjuangan para pahlawan.
Dalam rangkaian upacara, pelaksanaan pengibaran Bendera Merah Putih dikoordinir oleh Polres Kepulauan Yapen, sedangkan pelaksanaan penurunan bendera pada sore hari dipercayakan kepada Kodim 1709/Yawa.
Momen sakral semakin terasa saat pembawa baki, Dewi Masalo Kayoi, salah satu putri terbaik Kabupaten Kepulauan Yapen, melangkah tegap menuju panggung kehormatan untuk menerima Duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dari Inspektur Upacara sebelum diserahkan kepada Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).
Prosesi pengibaran Sang Merah Putih berlangsung lancar dan penuh penghormatan. Kibaran bendera di bawah langit Serui menjadi simbol semangat perjuangan, persatuan, serta kecintaan masyarakat Yapen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Usai upacara, rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dilanjutkan dengan Ziarah Nasional di Taman Makam Pahlawan (TMP) Newi Serui. Bertindak sebagai pimpinan ziarah, Dandim 1709/Yawa Letkol Inf Ahmad Albar, S.H., memimpin penghormatan kepada arwah para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dandim 1709/Yawa Letkol Inf Ahmad Albar, S.H., menegaskan bahwa Kodim 1709/Yawa bersama Polri berkomitmen untuk terus bersinergi dalam mendukung dan memastikan seluruh rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI dapat berlangsung aman, tertib, dan lancar, termasuk di seluruh pelosok wilayah Kabupaten Kepulauan Yapen dan Kabupaten Waropen.
“Kodim 1709/Yawa bersama Polri berkomitmen menjaga dan mendukung pelaksanaan upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI di seluruh pelosok wilayah Kabupaten Kepulauan Yapen dan Waropen, sebagai wujud penghormatan kepada para pahlawan serta menjaga semangat persatuan dan kebersamaan masyarakat,” ungkapnya.
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Kepulauan Yapen bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum untuk mengenang jasa para pahlawan sekaligus memperkuat tekad seluruh elemen masyarakat untuk terus mengisi kemerdekaan melalui pengabdian, persatuan, dan pembangunan demi kemajuan daerah serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
suaraindonesia1 Adalah media online yang menyajikan informasi terkini serta terpercaya. Dibawah naungan badan hukum PT. SUARA KHARISMA BINTANG INDONESIA terdaftar legal di Kemenkumham dengan nomor: AHU-0117306.AH.01.11.TAHUN 2019
suaraindonesia1 berkantor pusat di PLAZA ALDEOS Jl. Warung Buncit Raya No. 39, Warung Jati Barat, RT 001/RW 09, Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta Selatan, Indonesia
Email : redaksi.skrinews@gmail.com
Telp/WA : 0822 250000 24
COPYRIGHT © SUARA INDONESIA 1